BerandaPariwisataSurga Tersembunyi di Merabu

Surga Tersembunyi di Merabu

Terbaru

BERAU. Kampung Merabu kini menjadi destinasi ekowisata di Berau. Pemandangan yang menawan di kampung ini berupa alam hutan di kawasan pegunungan kapur yang eksotis.

Bagi pecinta wisata alam, Kampung Merabu di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, jangan sampai terlewatkan.

Kampung ini berada pada jarak 130 kilometer dari Tanjung Redeb, ibu kota kabupaten, dengan lama perjalanan dengan roda empat sekitar 3 jam perjalanan.

Kampung merabu bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Nantinya di kawasan Kelay, ada plang besar yang menandakan jalan menuju Kampung Merabu.

Karena kawasannya dipisahkan oleh sungai kecil, wisatawanpun harus menggunakan kapal kecil lagi untuk sampai ke kampung tersebut.

Luas Kampung Merabu mencapai 22.000 hektare. Kampung ini berbatasan dengan Kampung Panaan di utara, Kampung Merapun di barat dan timur, dan Kabupaten Kutai Timur di selatan. Jumlah penduduknya sekitar 200 orang atau sekitar 55 kepala keluarga.

Kampung Merabu terdiri atas kawasan hutan lindung 10.800 hektare, hutan produksi 12.200 hektare, dan kawasan karst yang mencapai 7.500 hektare. Dengan potensi tersebut,

Kampung Merabu telah memperoleh izin dari Kementerian Kehutanan pada Januari 2014, yakni pengelolaan hutan desa mencapai 8.245 hektare.

Uniknya di Kampung Merabu wisatawan akan melihat kombinasi hutan dan pegunungan kapur atau karst dengan lingkungan yang masih alami.

Pegunungan karst ini secara teoritis dulunya berada di dalam lautan. Karena tenaga endogen wilayah ini terangkat ke permukaan.

23img 20161129 wa0040
Goa Tapak Tangan di dengan nama Goa Bloyot disinyalir menjadi wadah nenek moyang suku Dayak Basap hidup ribuan tahun lalu.

Tempat ini menawarkan suasana alam hutan, pegunungan karst, gua purbakala, dan sungai-sungai kecil yang jernih karena pengaruh kandungan kapur.

Danau Nyadeng misalnya memiliki air berwarna hijau toska yang jernih, juga sejuk yang berasal dari pegunungan karst itu.

Kampung Merabu yang berada jauh dari pantai, dikelilingi oleh kawasan pegunungan karst. Kontur pegunungan ini memiliki banyak bukit-bukit berbentuk kerucut.

Warna putih dinding-dinding pegunungan kapur berpadu dengan pemandangan yang hijau hutan adalah pemandangan alam yang ditawarkan.

Seperti di pegunungan karst lain, di Kampung Merabu terdapat sejumlah gua-gua yang menarik untuk dimasuki.

Salah satunya adalah Gua Beloyot yang menyimpan peninggalan sejarah purbakala, berupa gambar telapak tangan yang diperkirakan berusia lebih dari 4.000 tahun.

Kampung Merabu dihuni oleh etnis Dayak Lebok. Mereka tidak bisa dipisahkan dengan kawasan hutan dan pegunungan karst yang telah lama menjadi tempat menggantungkan hidupnya.

Oleh karenanya mereka telah menyadari akan pentingnya kelestarian tempatnya berpijak.

Salah satu penghasilan masyarakat diperoleh dari memanen madu di hutan hutan. Sebelum ekowisata mulai dikenal, Kampung Merabu sudah lama dikenal sebagai penghasil madu hutan yang memiliki kualitas tinggi.

Nenek moyang mereka yaitu suku Dayak Lebok mengajarkan pengolahan pasca-panen madu yang tidak bersentuhan langsung dengan tangan.

Sarang lebah diiris pisau panjang dan madu ditiriskan dengan mengandalkan gravitasi bukan diperas dengan tangan sehingga awet hingga bertahun-tahun.

Panen madu tidak dilakukan setiap waktu atau hanya setahun sekali saat pepohonan di hutan berbunga.

Dari panen itu. Panen yang dihasilkan mencapai 3.000 liter. Jumlah ini langsung ludes diserbu pembeli dari Tanjung Redeb.

Meski tidak musim madu, kampung Merabu bukan berarti tidak banyak orang yang datang. Dengan motto “Asyik” akronim dari aman, sehat, indah, dan kreatif, tempat ini telah menjadi destinasi ekowisata di Berau dan Kalimantan Timur umumnya.

Untuk menghindari dari konflik akibat perebutan sumber daya alam antara warga seperti perebutan madu dan sarang burung, kini setiap kepala keluarga (KK) warga Merabu telah mendapat jatah dua hektare lahan.

Sebanyak 80 persen luas lahan masing-masing ditanami bibit karet yang berasal pemerintah Kabupaten Berau sebagai sumber penghasilan baru.

Melalui pendampingan, Warga Merabu juga mengembangkan peternakan sapi yang dikelola dalam satu kawasan dengan luasnya mencapai 25 hektare.

Lahan untuk kandang, penanaman rumput, sertu kebun sayur mayur yang hasilnya dijual di sekitar kampung.

Dengan pertanian dan peternakan ini mereka tidak hanya mencari penghasilan dari hutan, namun diibaratkan sebagai gudang.

Dari hutan selama ini mereka mendapatkan madu dan sarang burung walet, kayu, rotan, buah-buahan, tumbuhan, bahan obat herbal, serta bahan-bahan untuk keperluan upacara adat.

Kampung Merabu memiliki hutan desa dan hutan cadangan. Kampung ini disebut sebagai yang pertama di Kabupaten Berau yang memperoleh pengakuan atas hutan desa yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 28/Menhut-II/2014 pada tentang Penetapan Areal Kerja Hutan Desa Merabu seluas 8.245 hektare.

Di Kalimantan Timur, Kampung Merabu adalah salah satu kampung percontohan penerapan program pengelolaan hutan lestari melalui skema Program Karbon Hutan Berau (PKHB).

Program ini mendukung penerapan program pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+).

Untuk keperluan pariwisata, di Merabu saat ini telah didirikan tiga rumah singgah. Rumah panggung berdinding kayu dengan atap berbentuk pelana, mirip rumah-rumah Eropa.

Dari rumah-rumah ini wisatawan dapat menginap untuk menikmati keindahan dan suasana berada di tengah hutan di malam hari.

Rumah yang dikelola oleh Bumdes Kerima Puri memiliki halaman berumput yang luas ini.

Kendaraan roda empat pengunjung bisa langsung diparkir di dekat rumah ini, sehingga mobilitas wisatawan dapat dilakukan dengan mudah.

Seiring bertambahnya kunjungan wisatawan, beberapa rumah warga juga dijadikan homestay yang layak.

Homestay di sini memiliki kamar mandi yang bersih dan dan pelayanan pemiliknya yang baik. 

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka