BerandaHabar Provinsi KalselHabar BanjarbaruJadi Sekolah Penggerak Angkatan...

Jadi Sekolah Penggerak Angkatan Pertama, Kabupaten Banjar dan Tala Study Banding Ke SDN LUB 1

Terbaru

Baru-baru ini Kemendikbud Ristek menetapkan kurikulum baru yaitu Kurikulum Merdeka yang bisa dikatakan  sebagai kurikulum penyempurna  dibanding sebelumnya yaitu K13. 

Untuk mensukseskan penerapan kurikulum merdeka sendiri maka dibentuklah program sekolah penggerak, Program ini merupakan kolaborasi antara Kemendikbud dengan Pemerintah Daerah dimana komitmen Pemda menjadi kunci utamanya. 

Di Kalimantan Selatan masih sedikit yang menerapkan sistem sekolah penggerak ini, dan untuk di wilayah Banjarbaru sendiri di angkatan pertama ada 8 sekolah yang sudah menerapkan termasuk SDN Landasan Ulin Barat 1 yang lebih dulu menerapkan sistem sekolah penggerak.

Sehingga sekolah yang lebih dulu menerapkan dapat memberikan gambaran/implementasi kurikulum merdeka ini pada program sekolah penggerak untuk angkatan berikutnya seperti acara kunjungan atau study banding yang dilakukan oleh SDN Landasan Ulin Barat 1 untuk rekan-rekan sekolah lain di angkatan kedua yaitu dari Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut yang juga akan menerapkan program sekolah penggerak tersebut.

IMG 20220627 WA0055

Kepala Sekolah SDN LUB 1, Siti Hamdah mengatakan, Untuk menjadi sekolah penggerak ada tahapan atau seleksi tersendiri dengan bertujuan untuk memajukan mutu pendidikan dengan paradigma baru. 

“Untuk menjadi sekolah penggerak itu sendiri kepala sekolahnya yang mengikuti seleksi. Jadi di angkatan 1 itu ada seleksi administrasi, terus bakat sekolah stage, tes simulasi mengajar, tes wawancara dan masih banyak lagi jadi setiap tahap itu berjenjang waktunya, dan yang menentukan lulus atau tidak nya langsung dari kementerian, dan tujuan dari sekolah penggerak ini adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi kognitif (literasi dan numerasi) serta non kognitif (karakter) yang diawali dengan SDM yang unggul (Kepala sekolah dan guru),” Jelas Siti Hamdah.

Siti Hamdah juga menambahkan bahwa untuk menerapkan program sekolah penggerak ini juga harus memiliki persiapan yang matang dari metode dan juga peran guru-guru lain.

“Kalau disekolah penggerak ini yang pertama itu guru-gurunya harus open minded dulu untuk implementasi dengan kurikulum merdeka, dalam artian semua kegiatan harus berpusat kepada murid, mulai dari menyusun tujuan pembelajaran, proses pembelajarannya dan penilaian apalagi dalam pembelajaran paradigma baru ada pembelajaran diferensiasi, setiap murid punya bakat dan minat sesuai kemampuannya masing-masing dan semua itu harus diakomodir oleh guru-guru sesuai dengan kemampuannya, Untuk kurikulum merdeka di jenjang SD ini ada 3 fase setiap fase ditempuh anak 2 tahun fase A kelas 1 & 2 , fase B kelas 3 & 4 dan fase C kelas 5 & 6,” tambahnya.

Kepala Sekolah SDN lUB 1 ini juga berharap agar Pemerintah mendukung sepenuhnya fasilitas sekolah penggerak sehingga program ini sendiri dapat berjalan dengan lancar.

IMG 20220627 WA0059

Sementara itu, salah satu guru penggerak di SDN LUB 1, Waluyo Agus Widodo mengatakan, lantaran kurikulum ini terbilang baru, tentu guru-guru lain juga harus semaksimal mungkin persiapannya agar sekolah penggerak bisa terwujud dengan lancar dan berjalan dengan semestinya.

“sebagai guru penggerak, menurut saya bagus dilaksanakannya sekolah penggerak ini, kalau bisa semuanya ikut jadi guru penggerak karena kurikulum kita juga sudah berbeda, dari 2013 menuju ke kurikulum merdeka dan semua sekolah akan menuju ke kurikulum baru tersebut yang diawali dengan adanya sekolah penggerak ini, dan untuk di SDN Lub 1 sendiri penerapan kurikulum baru ini dimulai dari kelas 1 sampai kelas 4 dan di tahun berikut nya di kelas berikutnya jadi bertahap seperti itu,” Jelas Waluyo.

Dikatakan Waluyo,”kalau sekolah penggerak ini pembelajarannya sama, yang berbeda dulu di K13 semua mata pelajaran digabung jadi satu atau “tematik” sekarang kembali ke pelajaran masing-masing dan meleburkan antara ipa dan ips menjadi Ipas, tidak ada kkm, dan penilaiannya dilihat dari tujuan pembelajaran apakah tuntas dalam menyelesaikan capaian pembelajaran di setiap fasenya, lalu pada sekolah penggerak ini juga ada pembelajaran project penguatan pelajar pancasila,  praktek atau aksi nyata yang dilaksanakan satu bulan atau satu semester sekali untuk melihat apakah tercapai tujuan pembelajarannya, target yang diharapkan adalah tercapainya pelaksanaan dari kurikulum merdeka ini, dan semoga berjalan lancar dan mendapat dukungan dari semua pihak atau lapisan,” Tutur Waluyo. 

IMG 20220627 WA0060

Disisi lain, Guru sekolah Sungai Alang 2, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Humaidi mengaku Untuk sekolah lain khususnya angkatan dua dan seterusnya kendala dari program sekolah penggerak ini masih meraba-raba bagaimana pengimplementasiannya.

“Di kabupaten banjar ada 18 sekolah yang masuk menjadi sekolah penggerak dan untuk kecamatan karang intan sendiri ada 3 sekolah yang masuk termasuk SDN Sungai Alang 2 dan kita ini dari pusatnya itu angkatan kedua sedangkan dari daerah atau dari kabupaten banjarnya sendiri angkatan pertama yang ikut menerapkan sekolah penggerak jadi masih bingung makanya kami mengikuti study banding ini agar melihat bagaimana sistematis dan implementasi sekolah penggerak, dan harapan saya sendiri untuk sekolah penggerak ini kalau bisa lebih memajukan pendidikan,” Ungkap Humaidi.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka